Perbedaan Akuntansi dan Audit, Serupa Tapi Berbeda

  • 3 min read
  • Jul 24, 2021

Bhutannica.org – Akuntansi dan audit keliatannya sama, tetapi nyatanya berbeda. Itu lah yang disebut dengan sama tetapi berbeda.

Meski begitu, kebanyakan mata kuliah audit banyak dibahas dalam kelas atau jalur akuntansi. Jarang dijumpai jurusan khusus audit yang terpisah dengan jurusan akuntansi. Yang paling sering adalah jurusan bisnis terpisah dengan jurusan akuntansi walau bisnis dan akuntansi saling berhubungan.

Bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh perbedaan akuntansi dan audit terasa sangat tipis dan hubungan keilmuannya juga benar-benar kuat dan nyaris tidak bisa dipisahkan antara akuntansi dan audit. Dalam profesi praktisi pun, seorang akuntan seharusnya mengerti audit, begitupun seorang auditor juga penting untuk memahami akuntansi.

Bahkan juga, ada banyak profesi akuntansi yang berkolaborasi dengan bidang keilmuan audit, yaitu salah satunya profesi akuntan forensik. Akuntansi forensik adalah kombinasi antara ilmu akuntansi, audit, dan ilmu hukum. Oleh sebab itu, di tengah perbedaan yang sangat tipis antara akuntansi dan audit, masih tetap penting untuk mendalami lebih dalam tentang akuntansi dan audit.

Akuntansi

Melansir dari buku “Dasar-Dasar Akuntansi” yang disusun oleh Al Haryono Jusup tahun 2001, akuntansi bisa diartikan sebagai suatu disiplin yang sediakan informasi yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas secara efisien dan menilai kegiatan-kegiatan suatu organisasi.

Selanjutnya, Al Haryono Jusup mengatakan bahwa pengertian akuntansi, jika dilihat dari sudut kegiatannya, terdiri dari proses pencatatan, penggolongan, penyederhanaan, laporan, dan penganalisaan data keuangan suatu organisasi:

Proses pencatatan adalah pendataan transaksi ke jurnal.
Proses penggolongan adalah penyusunan buku besar atau yang disebut dengan general ledger.
Proses peringkasan adalah proses penyusunan akun-akun buku besar tersebut ke neraca saldo.

Proses laporan adalah penyusunan laporan keuangan yang biasanya terbagi dalam laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan neraca. Laporan laba rugi mendeskripsikan hasil operasi perusahaan dalam suatu periode waktu tertentu.

Dalam kata lain, laporan laba rugi mendeskripsikan kesuksesan atau kegagalan operasi perusahaan dalam upaya capai tujuannya. Hasil operasi perusahaan yang berbentuk laba atau rugi akan berpengaruh pada modal pemilik.

Jika perusahaan mendapatkan keuntungan, maka keuntungan itu akan meningkatkan modal pemilik. Sebaliknya, bila perusahaan mengalami rugi, maka modal pemilik akan berkurang.

Laporan perubahan modal sering dikatakan sebagai jembatan antara laporan laba rugi dan neraca. Neraca sering dikatakan sebagai laporan posisi keuangan adalah suatu daftar yang mendeskripsikan aktiva (harta kekayaan), kewajiban, dan modal yang dipunyai oleh suatu perusahaan di suatu saat tertentu.

Analisis data laporan keuangan bisa dijalankan dengan bermacam cara, diantaranya dengan membandingkan jumlah akun-akun di suatu periode laporan keuangan dengan jumlah akun-akun pada periode laporan keuangan yang sebelumnya, dan analisis laporan keuangan umumnya dikerjakan dengan lakukan analisis rasio keuangan.

Audit

Audit bisa diartikan sebagai proses yang sudah dilakukan secara sistematis dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan dan kejadian ekonomi secara objektif untuk menentukan tingkat kepatuhan asersi itu dengan persyaratan yang sudah ditentukan dan menyampaikan hasilnya ke pihak-pihak yang memiliki kepentingan (www.jurnal.id).

Hasil dari audit adalah berbentuk opini, yaitu berbentuk opini dari auditor tentang laporan keuangan yang diperiksanya. Audit terdiri dari 5 jenis yakni opini wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion), opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf keterangan (modified unqualified opinion), opini wajar dengan pengecualian (qualified opinion), opini tidak wajar (adverse opinion), dan opini tidak mengatakan pendapat (disclaimer opinion).

Opini wajar tanpa pengecualian jika memenuhi keadaan laporan keuangan lengkap, bukti audit yang diperlukan lengkap, ketiga standar umum sudah diikuti semuanya dalam perikatan kerja, laporan keuangan disediakan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku dan konsisten, serta tidak ada ketidakjelasan yang cukup memiliki arti tentang perkembangan di masa datang (going concern).

Opini wajar tanpa pengecualian dengan paragraf keterangan apabila sebagian dari pendapat auditor diambil dari opini auditor independen yang lain, tidak tersedianya aturan yang jelas berkaitan dengan laporan keuangan hingga berpotensi menyimpang dari SAK (Standar Akuntansi Keuangan).

Disamping itu, ada pengaruh ketidakjelasan peristiwa masa mendatang dan hasilnya tidak bisa diprediksi, ada keraguan dari auditor atas konsep going concern perusahaan/entitas, kurang konsisten perusahaan dalam mengimplementasikan prinsip atau standar akuntansi yang dipakai, dan auditor ingin menekankan suatu hal.

Opini wajar dengan pengecualian jika auditor setelah mendapatkan bukti yang cukup dan cocok menyimpulkan jika kesalahan penyampaian, baik secara individual atau secara agregasi adalah material namun tidak pervasif pada laporan keuangan, atau auditor tidak mendapatkan bukti yang cukup dan cocok yang menjadi dasar opini, tapi auditor menyimpulkan jika dampak kesalahan penyajian yang tidak terdeteksi yang mungkin muncul pada laporan keuangan, bila ada, dapat menjadi material tapi tidak pervasif.

Opini tidak wajar jika setelah lakukan pengecekan mendapatkan bukti yang cukup dan cocok selanjutnya menyimpulkan jika ada kesalahan penyajian, baik secara individual atau secara agregasi adalah material dan pervasif pada laporan keuangan. Pervasif sendiri disebut sebagai kesalahan yang akan membawa pengaruh kemana saja atau mendalam.

Opini tidak menyatakan pendapat jika auditor tidak mendapatkan bukti yang cukup dan cocok untuk menjadi dasar opini, dan auditor tidak menyimpulkan jika pengaruh kekeliruan penyajian material yang tidak terdeteksi yang mungkin muncul pada laporan keuangan, bila ada, bisa bersifat material dan pervasif.

Kesimpulannya adalah akuntansi memiliki suatu siklus yakni pencatatan bukti-bukti transaksi ke jurnal, buku besar, neraca saldo, jurnal penyesuaian, neraca saldo sesudah penyesuaian, dan laporan keuangan yang biasanya terdiri dari laporan laba rugi, laporan perubahan modal, dan neraca.

Bedanya dengan siklus kerja audit adalah mencari kesesuaian akun-akun dalam laporan keuangan terhadap bukti-bukti transaksi dan setelah itu memberikan pendapat pada laporan keuangan tersebut. Agar lebih jelas, perbedaan antara akuntansi dan audit dideskripsikan seperti berikut.