Pengalaman Tes Seleksi MDP PT Mayora Indah Tbk

  • 9 min read
  • Aug 10, 2021

Bhutannica.org – Hi friends! Wah minggu ini masih lanjut nih, pengalaman saya di dunia pencarian kerja yang penuh liku-liku. Jika ingin tahu alasan saya menuliskan ini, Anda bisa lihat pada post rekrutmen pertama saya di BCA yak hehe. Ini kali saya akan bercerita tahapan rekrutmen saya di PT Mayora Indah Tbk untuk posisi MDP atau Management Development Program.

Intro dulu nih, Anda sudah tahu Mayora belum? Anda kenal produk biskuit Roma, permen Kopiko, Kis, Tamarin, sereal Energen, dan Astor yang kerap disajikan saat lebaran? Nah itu semua produk dari Mayora . Jadi, bila Anda rakyat Indonesia, tentu saja Anda sangat wajib tahu terkait Mayora.

Mayora adalah industri makanan yang lahir di Indonesia, dan sudah ada semenjak 1977, produk-produknya menjadi legenda dalam kehidupan penduduk Indonesia dan sekarang produknya sudah di impor ke sejumlah negara, produk yang paling populer di luar negeri diantaranya adalah permen kopiko. Siapa coba yang tidak ingin meniti karir di industri sebesar Mayora?

Nah cukup itu saja ya intronya haha . Jadi, tiap tahun Mayora buka posisi MT yang dinamakan MDP, nah MDP dalam Mayora ada dua yakni MDP Sales dan MDP Factory. Jujur saja waktu itu saya cukup sedih karena saya mengharapkan Mayora buka MDP untuk marketing, sama seperti yang Anda tahu pada post sebelumnya bila saya tertarik di dunia marketing hehe.

Tetapi, selain startup, saya juga ingin meniti karir di perusahaan FMCG atau fast moving consumer goods, oleh sebab itu saya memilih untuk mendaftar MDP Factory lewat job fair UGM yang diselenggarakan di awal bulan September 2019 dengan mengumpulkan CV dan beberapa dokumen yang waktu itu saya bawa seperti fotokopi ijazah, transkrip, KTP, KK dan isi form pendaftaran melali google form.

Tidak berselang lama, sore harinya saya mendapatkan sms jika saya lolos tahapan administrasi dan bisa mengikuti tahapan selanjutnya di hari Senin : “), iyak jadi jika Anda ikuti rekrutmen di job fair, kebanyakan Anda tak perlu menunggu lama karena proses rekrutmennya akan berjalan waktu ke waktu, karena pihak company rata-rata akan tinggal selama satu minggu di suatu kota untuk selanjutnya pindah ke kota lain . Maka, persiapkan tempat tinggal sementara jika Anda dari luar kota yah!

Oya, fyi awalannya saya resah untuk hadir tes atau tidak, karena di hari Minggunya saya mendapatkan sms panggilan psikotes dari perusahaan FMCG lainnya. Anehnya, waktu dan tanggalnya juga sama. Waktu itu saya tidak bisa melakukan reschedule untuk salah satu company karena bila di reschedule maka saya harus test di Jakarta, akhirnya saya mengikhlaskan satu perusahaan itu dan pilih Mayora. Hiks :”, why oh why . Maka, Anda juga harus siap ya, beberapa rekan saya juga mengalami hal sama, sehingga Anda harus pandai-pandai bernegosiasi dengan pihak rekruiter, siapa tahu Anda bisa berpindah ke batch lainnya namun tetap pada minggu itu.

1. Tes Psikotes

Saya masih ingat sekali bila test tahap pertama itu diselenggarakan di UKDW di mana saya berjumpa rekan SMA saya bah hehe. Seperti rekrutmen secara umum, di hari itu diawali dengan penjelasan company profil yang membuat saya makin mantap untuk meniti karir di Mayora. Waktu itu peserta yang tiba kurang lebih 50 orang untuk batch jam itu, karena masih ada di jam lain dan hari lain, sehingga kita tidak tahu jumlah pasti peserta yang bisa lolos tahap administrasi, belum juga di kota lain nanti :”).

Test psikotes yang diberikan ada banyak jenis seperti test verbal (sinonim, antonim), numerical (deret angka), wawasan (berkaitan pengetahuan dasar seperti piramida adalah ikon negara …), cari kesamaan dan perbedaan ( 12345 berbeda dengan 12354), dan abstrak (berbentuk pola bangunan). Kurang lebih semacam itu dan pengerjaannya sangat terbatas untuk tiap bagian.

Kemudian kita disuruh untuk istirahat dan balik lagi untuk melihat hasil siapa yang akan lolos tahapan interview HR yang akan langsung diadakan siangnya :”). Siangnya saya kembali dan Puji Tuhan, saya maju ke tahapan selanjutnya, yeay! dengan cepat saya segera cari tempat tersendiri untuk mempersiapkan diri.

2. Interview HR

Saat itu saya ada di posisi akhir, tetapi puji Tuhan saya memperoleh teman-teman baru yang bisa mengisi waktu saya tunggu sehingga tidak berasa jam 14.30 saat itu saya dipanggil ke dalam. Di dalam ada tiga HR wanita yang duduk terpisah, waktu itu saya mendapatkan Kak Sunny (sebut saja demikian) yang berada di tengah-tengah. Kak Sunny ini benar-benar ramah sekali, hingga membuat saya nyaman hehe. Pertanyaan yang diberi lumayan simpel seperti perkenalkan diri secara singkat, latar belakang pendidikan dan skripsi. Kak Sunny menjelaskan bila saya lolos maka akan mengikuti Test MDP di hari Rabu, sedangkan bila saya gagal lolos maka bisa saja saya akan diarahkan ke bagian non-MDP atau menjadi staf di bagian tertentu yang mereka kira saya sesuai dalam kurun waktu dua minggu, bila kemudian saya tetap tidak diberi kabar maka saya dianggap tidak lolos baik untuk MDP atau staff. Oya untuk Anda yang mendaftar posisi staf maka tidak akan lewat MDP Test tetapi langsung menuju wawancara user. Interview keseluruhan berjalan dalam bahasa Indonesia, tetapi ada teman saya yang diwajibkan menggunakan Bahasa Inggris saat perkenalan secara singkat, jadi persiapakan ya! dan interview hanya memerlukan waktu 15 menit, cukup singkat kan? Sesudah interview, saya pulang dengan penuh optimis jika saya pasti bisa lolos. Sore harinya, Puji Tuhan saya memperoleh sms kembali, bila saya lolos dan diwajibkan mengikuti Tes MDP di hari Rabu :”) well, bit tired but let’s go on!

3. MDP Test (FGD + Mini Presentation)

Setelah mencari tahu di internet tentang MDP Test, saya lantas kembali menuju UKDW untuk mengikutinya. Hari itu bisa disebut masih pagi yaitu kurang lebih jam 7 pagi, saya masih fresh, tetapi tidak bisa dipungkiri saya cukup deg-degan, karena ini FGD pertama saya sebagai jobseeker, meski saya pernah berulangkali FGD saat mendaftar beasiswa namun tetap saja kegelisahan itu tiba dan membuat saya ingin cepat menyelesaikan seleksi hari itu.

Saya adalah seorang yang tidak begitu suka berdebat, oleh sebab itu FGD jadi momok tersendiri untuk saya yang perlu mempush diri saya untuk keluar dari zona nyaman, tetapi apa boleh buat, saya harus melaluinya hehe.Sesudah menunggu kurang lebih 30 menit, salah satu HR keluar dan memberitahukan nama peserta dan kelompoknya, dan puji Tuhan : “), saya langsung mendapatkan kelompok pertama, dan hal baiknya lagi saya satu kelompok dengan rekan saya yang dari Undip, yang saat itu baru saya kenal hehe.

Kelompok saya terbagi dalam 6 orang dengan 1 wanita. Kami dipantau oleh 1 HR yang bertugas untuk menjelaskan proses FGD dan menilai perfoma kami. Waktu itu kami disediakan 6 kursi, dan saya sengaja duduk di tempat di mana HR bisa melihat saya dengan jelas, tujuannya? ya itu adalah cara saya pribadi supaya HR bisa memandang saya saat saya bicara dan agar HR lebih bisa menotice saya, well saya tidak paham apakah itu memang works or not, tetapi layak dicoba gaes!

FGD diawali dengan pemberian sebuah case yang dijelaskan secara general oleh HR, case itu berkaitan sebuah perusahaan makanan yang mempunyai sejumlah masalah dalam produksi dan sumber daya manusia, nah diberi beberapa alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut, di mana kita diwajibkan bisa berdiskusi untuk memilih dari beberapa alternatif itu yang mana paling efisien dan efektif agar perusahaan tetap bisa bertahan di pasar.

Well, menurut saya case yang diberi cukup memiliki bobot karena mungkin itu case yang akan kita temui saat nanti menjadi manager di Mayora :”D. Team saya mengawali dengan memberikan waktu untuk masing-masing orang berpikir selama 5 menit selanjutnya menjelaskan usulannya. Hahaha, saya cukup cemas walaupun tampak santai diluarnya, karena case nya memang cukup sulit, ada beberapa hal yang harus diperhitungkan.

FGD juga diwarnai dengan beberapa perdebatan kecil tetapi tetap santai (tidak sampai bentak-bentak meja ya hehe) dan saya mengucapkan syukur setidaknya saya telah berbicara tentang banyak hal karena di awal HR menjelaskan bila waktu diskusi hanya sekitar 20 menit, jadi saya tidak ingin menyianyiakan setiap peluang yang ada agar bisa aktif.

FGD pun selesai tanpa kesimpulan hehe, it’s okay kok kata HR hehe. Oya, untuk saya ini lebih seperti terlihat LGD (Leaderless Group Discussion) karena tidak ada moderator dari pihak HR, jadi betul-betul kami dibebaskan untuk berdiskusi dengan cara kami. Okay, setelah itu kami menuju bagian mini presentasi.

Bila tadi saat FGD kami sebagai team maka di mini presentasi ini kami sebagai individu. Di mana kami dipersilahkan maju satu-persatu untuk memilih gambar yang diletakkan di meja (gambarnya dibalik sehingga kita tidak paham apa gambar tersebut). Setelah memilih, kami diberi waktu 1 menit untuk mempersiapkan sebuah mini presentasi berkaitan gambar tersebut dan sesudahnya menyampaikannya dihadapan yang lain selama 2 menit. HR tidak memberikan clue apa yang perlu kami sampaikan jadi itu bebas, betul-betul sesuai pengetahuan kami.

Waktu itu HR meminta siapa secara bebas bisa maju di depan, saya memilih untuk melihat dulu penampilan yang lain sambil menyiapkan strategi saya sendiri. Gambar yang saya dapat adalah berkaitan foto anak-anak yang belajar di kolong jembatan, saya tidak paham itu berada di negara mana tetapi bila saya lihat itu tidak di Indonesia.

Sesudah menyusun kata demi kata, saya pun maju diurutan ketiga, saya menerangkan gambar tersebut, masalah yang terjadi, keadaan real yang ada saat ini (setahu saya saja hehe), dan apa yang bisa kita kerjakan sebagai generasi muda untuk membantu masalah yang terjadi . Maka point yang menurut saya berbeda dari rekan-rekan yang sudah maju adalah, saya memutuskan untuk menambah solusi pada gambar yang diberikan instead of hanya mengomentari gambar tersebut, mudah-mudahan itu jadi add value pada presentasi yang saya berikan :”). Puji Tuhan hari itu selesai dan jam 9 saya sudah dibolehkan pulang, yeay! masih pagi!

Minggu demi minggu pun berakhir, test demi test dari beberapa perusahaan sudah saya lewati, sampai saya hampir lupa dengan tes Mayora ini. Pada akhirnya setelah dua minggu saya mendapatkan kabar lewat email bila saya lolos untuk menuju tahapan paling akhir yaitu Interview User, Puji Tuhan waktu itu saya benar-benar mengucapkan syukur meski saya tidak menduga karena saya agak pesimis dengan FGD saya waktu itu. Tetapi, karena proses rekrutmen yang masih berlangsung maka Interview User ini tidak diadakan dalam waktu dekat sehingga saya harus menunggu lagi.-.

Satu bulan berakhir, yak sebulan : “), pada pertengahan bulan Oktober saya pun mendapatkan email dari Bu HR untuk mengikuti final interview di salah satu cabang distributor Mayora di Yogyakarta. Puji Tuhan, pada akhirnya saya bisa merasakan interview user yang pertama kalinya hehe itu yang terbesit dalam pikiran saya.

Saya juga menyiapkan diri dengan mencaritahu seluk beluk Mayora seperti visi-misi, arah dan budaya perusahaan, serta saya menyiapkan diri dengan berbagai pertanyaan yang mungkin akan ditanya karena saya orangnya suka blank dan cara ini akan sangat membantu saya, i’m sure! Saya juga menyiapkan tiap dokumen yang diminta, dan Puji Tuhan waktu itu saya sedang magang di Yogya sehingga saya tak perlu repot naik kereta dari Solo ke Yogya. Puji Tuhannya lagi, manager magang saya membolehkan saya untuk mengikuti interview asal pekerjaan saya selesai, akhirnya saya bawa laptop kantor ke tempat interview :3

4. Final Interview (With User)

Saya pun pergi menuju tempat yang letaknya cukup jauh dari kost saya, kost saya berada di utara dan tempat interview ada di selatan. Ada sedikit peristiwa tidak terduga saat ke arah tempat yakni motor saya bocor hehe :”) memang motor saya ituh benar-benar caper, saya juga harus meninggalkan motor saya di tambal ban dan menuju lokasi dengan abang Grab. Karena peristiwa bocor tadi saya sedikit terlambat menuju lokasi, puji Tuhannya sampai sana acaranya belum dimulai karena beberapa petinggi Mayora belum tiba.

Waktu itu ada 14 orang di lokasi, saya cukup amazed, ini tentu orang-orang yang paling berkompeten dan itu membuat saya agak kurang percaya diri hehe (harusnya jangan ya!). Singkat kata beberapa petinggi Mayora tiba dan Mas HR juga minta kami untuk isi sebuah mini tes berkaitan kemampuan Bahasa Inggris kami, sambil ia panggil satu-persatu untuk lakukan interview, well masalah Bahasa Inggris nya cukup sederhana kok lebih ke grammar, tetapi sebaiknya Anda pun menyiapkannya terlebih dahulu mengantisipasi kata lupa.

Waktu itu pikiran saya agak terbelah jadi dua, di satu segi saya harus mempersiapkan diri untuk interview dan di lain sisi saya harus kerjakan tugas magang saya, waktu itu pekerjaan magang saya adalah controlling dan atur data yang masuk sehingga mau tidak mau saya harus buka laptop kantor to keep it safe. Saya juga berdoa supaya diberi urutan awal sehingga bisa segera kembali lagi ke kantor, astaga woy final interview padahal saya nih memang. Puji Tuhan, tepat sesudah saya keluar toilet untuk merapikan pakaian, saya pun dipanggil masuk, good sign, isnt?

Waktu itu di ruang ada dua orang, 1 sebagai Ibu HR yang setia menemani kami dari proses rekrutmen-rekrutmen sebelumnya dan 1 lagi sebagai user saya atau atasan. Tidak main-main memang MDP Mayora inih, saya berpikir yang menginterview saya adalah atasan diatas saya, tetapi ternyata langsung General Manager Mayora yang mengatasi pabrik, :”).

Pertanyaan yang diberikan juga cukup padat tetapi sederhana, tidak ada perihal pengetahuan Mayora dan lain-lain, yang ditanya seputar skripsi, konsentrasi kuliah dan banyak hal yang menurut saya Anda semua tentu bisa menjawab. Namun, Anda perlu tenang dan tidak boleh berbohong karena beliau akan mengulik-ulik setiap yang kita katakan. Bila kita memang jujur, saya percaya semua pasti terjawab, seperti menjelaskan saat sidang skripsi kok :”).

Yang terakhir Ibu HR kembali meyakinkan saya kondisi di lapangan dan menanyakan apa saya siap ditempatkan di pabrik dengan keadaan yang ada seperti masuk saat hari libur / hari raya / hari minggu, kadang tidak dapat ibadah, bekerja shift, dan bisa ditempatkan di luar Jawa. Saat peristiwa itu jujur saya merasa cukup ragu, tetapi saya masih tetap menjawab saya siap, karena sebelumnya saya juga mengorek-orek terkait kondisi MDP Factory ini.

Kemudian saya diwajibkan menunggu, karena hasil siapa saja yang bisa lolos jadi MDP Factory akan diumumkan siang itu :”))), gilaak, memang, langsung campur aduk perasaaan saya. Kami juga memilih untuk makan dulu sambil menunggu, jujur saya merasa sudah menjadi MDP hehe, karena berjalan bersama rekan-rekan cari tempat makan dengan baju yang sangat formal, seperti sudah bekerja.

Kemudian tepat jam 1 kami kembali ke tempat seleksi, dan Mas HR saat itu turun memberitahukan siapa yang lolos. Ada 10 orang yang lolos menjadi MDP Factory, dan nama saya disebut pada urutan pertama : “), serius, campur aduk waktu itu hehe, rasanya tidak yakin, saya cuman bisa melongo dan berkata Puji Tuhan.

5. Offering

Yak, ini adalah tahapan setelah interview user dan dilakukan waktu itu : “), kelihatannya susah bernapas saya hari itu. Bisa disebut tahapan ini adalah mimpi tiap jobseeker karena bila sudah sampai tahap ini, Anda bisa dipastikan 90% bisa bergabung dengan perusahaan, walau masih ada tahapan MCU yang kadang jadi momok tersendiri, tetapi bila tahapan MCU diletakan di akhir seperti ini biasanya peluang Anda akan makin besar, yak 95% lah hehe.

Waktu itu saya yang masih tidak yakin, pada akhirnya masuk sebuah ruangan bersama 2 HR, 1 Ibu HR yang mewawancarai saya tadi dan 1 mas HR yang mendampingi seleksi kami hari itu. Mereka menjelaskan semua kontrak kerja yang akan kami lalui mulai dari tahap kami saat menjalani MDP sampai pengangkatan, lamanya waktu kontrak berlangsung, benefit-benefit yang akan kami peroleh seperti gaji dan tunjangan, dan denda jika kami melanggar kontrak.

Well, minta maaf yaah saya tidak bisa bercerita secara jelas isi kontrak kerja yang diberikan karena bersifat confidential dan saya benar-benar menghargai pihak Mayora, tetapi saya bisa memberikan gambaran ke Anda bila benefit yang diberi benar-benar worth it menurut saya untuk ukuran fresh graduates :”) dan bisa disebut masa depan Anda akan terjamin bila Anda bisa memberikan kinerja sesuai keinginan mereka.

Selanjutnya kami diberi kesempatan untuk bertanya tentang kondisi-kondisi di lapangan nanti, supaya kami betul-betul jelas saat sebelum kami memutuskan akan bergabung atau tidak dengan pihak Mayora. Hah maksudnya? Iyak, jika sebelumnya pihak Mayora yang memutuskan kami layak untuk bergabung atau tidak maka pada tahap offering ini adalah giliran kami untuk putuskan apa kami siap bergabung atau mungkin tidak dengan Mayora menyaksikan penawaran yang diberi :”).

Saya pun diberi waktu tiga hari untuk memikirkan tawaran dari Mayora, well, sangat cepat sekalee yak memang. Bila saya bersedia, maka tahapan selanjutnya adalah MCU yang akan diselenggarakan pada pekan depan dan onboarding atau penerimaan MDP yang akan diselenggarakan pada pertengahan bulan November 2019.

Well, hehe, setelah tiga hari menimbang berbagai hal dengan keluarga dan teman dekat saya serta berdoa ke Tuhan untuk minta petunjukNya, bahkan tetap terjaga sampai jam tiga pagi dan hasilnya pun tetap sama tidak berubah. Mungkin cukup plot twist untuk kalian dan bagi diri saya sendiri sih, saya memilih untuk tidak bergabung dengan Mayora :”. Bukan lantaran saya tidak tertarik sama benefit yang diberikan, jujur benefit yang diberi cukup tinggi tetapi benar-benar ada alasan tertentu yang tidak dapat saya sebut di sini. Well, it was one of the hardest decision I’ve ever made. Mayora juga menjadi salah satu pengalaman paling bernilai saya dalam mengaruhi dunia jobseeker and will always!